PENGARUH PENAMBAHAN DAGING BELUT (Monopterus albus) TERHADAP SIFAT FISIK, KIMIA, UJI ORGANOLEPTIK KERUPUK OPAK BELUT
Santi Widiya Hastuti, Ir. Viny
Suwita, M.sc dan Ade Yulia, S.T.P., M.Sc.
Program Studi Teknologi Hasil
Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,
Universitas Jambi
ABSTRAK
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan daging belut terhadap sifat
kimia, fisik dan uji organoleptik dalam pengolahan kerupuk opak belut yang
dihasilkan dan untuk mendapatkan penambahan daging belut yang terbaik pada
pembuatan kerupuk opak belut. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap
(RAL) dengan 5 perlakuan penambahan daging belut sebanyak (B1 = 0%, B2 = 2%,
B3= 4%, B4 = 6%, dan B5 = 8%) dan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penambahan daging belut pada pembuatan kerupuk opak berpengaruh nyata terhadap
kadar air, kadar protein, dan rasa kerupuk opak. Tetapi tidak berpengaruh nyata
pada volume pengembangan kerupuk opak, aroma, warna, kerenyahan dan uji hedonik
(kesukaan). Penambahan daging belut sebanyak 4% memberikan hasil terbaik yaitu
kadar protein 7,27%, kadar air 10,23%, volume pengembangan kerupuk 5,76% dan
uji organoleptik warna 3,10, rasa 1,85, aroma 3,85, dan kerenyahan 2,85.
Kata kunci : daging belut, pembuatan kerupuk opak,
penambahan daging belut
ABSTRACT
This study aims to determine the
effect of eel meat addition on the chemical, physical and organoleptic test in
the processing of eel crackers produced and to get the best eel meat addition
in the manufacture of eel crackers. This study used Completely Randomized
Design (RAL) with 5 treatment of eel meat addition (B1 = 0%, B2 = 2%, B3 = 4%,
B4 = 6%, and
B5 = 8%) and 4 replications. The
results showed that the addition of eel meat on the manufacture of crackers
opak significant effect on water content, protein content, and flavor crackers
opak. But no real effect on the volume development of opaque crackers, aroma,
color, crispness and hedonic test (favorite). The addition of eel meat as much
as 4% give the best result that is the protein content 7,27%, water content
10,23%, keris cow development volume 5,76% and organoleptik color test 3,10,
taste 1,85, aroma 3,85, and Crispness 2.85.
Keywords : eel meat, opak cracker manufacture, eel meat addition
LATAR BELAKANG
Ubi
kayu atau singkong (Manihot utilissima)
sudah lama dikenal oleh penduduk di dunia. Ubi kayu adalah salah satu komoditas
pertanian jenis umbi-umbian yang cukup penting di Indonesia. Ubi kayu saat ini
sudah digunakan sebagai komoditas agroindustri, seperti produk tepung tapioka,
industri fermentasi dan sebagai industri makanan utama maupun selingan
(Rukmana, 1997)
Kerupuk
opak adalah kerupuk yang dibuat dari ubi kayu. Digemari oleh semua lapisan
masyarakat baik muda maupun tua, harganya yang relatif murah dan mudah cara
pembuatannya. Keunggulan kerupuk opak dibandingkan dengan kerupuk lainnya
adalah kerupuk opak dibuat langsung dari ubi kayu sehingga kadar seratnya masih
tinggi. Kelemahan utama dari kerupuk opak adalah rendahnya kadar protein,
sehingga nilai gizinya rendah. Untuk mengatasi kelemahan tersebut maka dalam
pembuatannya dapat ditambahkan bahan lain yang kaya protein agar menjadi produk
kerupuk yang bernilai gizi tinggi dan rasa yang lebih enak ( Haryadi, 1989).
Belut
merupakan bahan pangan bergizi tinggi, karena kandungan gizinya yang tinggi
sudah tentu belut merupakan makanan yang baik untuk kesehatan. Kandungan
protein dan lemaknya yang tinggi sangat baik untuk dikonsumsi oleh anak-anak
yang mengalamigizi buruk. Daging belut mengandung hormon kalsitonin yang
berfungsi memelihara kekuatan tulang yangdiperlukan bagi tubuh manusia.
(Ghufran, 2010).
Oleh
sebab itu apabila kerupuk opak ubi kayu diberi penambahan daging belut
diharapkan akan menambah protein pada pengolahan kerupuk opak belut. Semakin
banyak penambahan belut, protein kerupuk opak meningkat protein. Penambahan
belut pada kerupuk opak diharapkan dapat meningkatkan nilai gizi dan rasa
kerupuk opak. Atas landasan-landasan yang diuraikan diatas maka penulis
melaksanakan penelitian dengan judul “Pengaruh Penambahan Daging Belut ( Monopterus albus) Terhadap sifat fisik,
Kimia, Dan Uji Organoleptik Kerupuk Opak”.
METODE PENELITIAN
Penelitian
ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2013, di laboratorium
Pengolahan dan Analisa Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,
Universitas Jambi. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ubi kayu
yang diperoleh dari petani kumpeh, provinsi Jambi dan belut yang dibeli di desa
Selat kabupaten muaro jambi. Bahan tambahan yang digunakan, garam, soda kue,
bawang putih, gula dan merica. Reagensia yang digunakan dalam penelitian ini
adalah HCl, NaOH, H2SO4, dan akuadest.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pisau, baskom, amphia, kompor,
timbangan analitik, pengukus, telenan, cetakan, kerupuk, labu kjedahl, bunsen,
lemari asam, alat destilasi, erlenmeyer, pipet tetes dan gels ukur.
Penelitian
ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan 5
taraf perlakuan. Perlakuan yang
dilakukan ialah penambahan daging belut sebanyak 0%, 2%, 4%, 6% dan 8 Untuk
ketelitian dalam penelitian ini dilakukan ulangan sebanyak 4 kali ulangan
sehingga diperoleh 20 satuan percobaan. Pembuatan kerupuk opak Ubi kayu
dikupas, dipotong, kemudian dibersihkan atau dicuci dengan air.
Kemudian
dikukus selama 1 jam. Selanjutnya dihilangkan empelurnya dan digiling halus.
Ikan belut dibersihkan, kemudian diambil dagingnya dan digiling hingga halus.
Setelah itu, dicampurkan dengan ubi kayu yang digiling sesuai dengan perlakuan
dengan konsentrasi belut yaitu 0 %, 2 %, 4 %, 6 %, 8 % dan ditambahkan
bumbu-bumbu bawang putih 4 gram, merica 1 gram, garam 4 gram, soda kue 0,4 gram
dari berat adonan. Setelah bahan dan bumbu dicampurkan.
selanjutnya
adonan yang telah homogen dipipihkan dengan cetakan berdiameter 3 cm dengan
ketebalan 2 mm, hasil cetakan dikeringkan dengan suhu 60 derajat celcius selama
5 jam menggunakan oven. Lalu dikeringkan dan setelah kering kemudian digoreng
dan dihasilkan kerupuk. Setelah menjadi kerupuk kemudian dilakukan analisa.
Pengamatan dan pengukuran data dilakukan dengan cara analisis terhadap
parameter sebagai berikut: kadar protein (AOAC, 1995), kadar air (%bk) (sudarmadji,
1997), uji organoleptik terhadap warna,
aroma, rasa, dan tekstur(Soekarto, 1985).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan daging belut berpengaruh nyata
terhadap kadar air dan kadar protein kerupuk opak belut yang dihasilkan dapat
dilihat pada tabel 1 dan tabel 2.
Tabel 1. Rata-rata kadar air (%) kerupuk
opak dengan berbagai persentase penambahan daging belut.
0% 9,67 a
2% 9,87 b
4% 10,23 c
6% 10,62 cd
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh
huruf kecil tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT.
Persentase
penambahan Kadar protein (%)
0% 5,12
a
2% 6,78 b
4% 7,27 c
6% 8,25 cd
Keterangan:
Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil tidak berbeda nyata pada taraf
5% menurut uji DNMRT.
1.
Kadar air (%)
Dari
tabel 1 kadar air kerupuk opak belut berkisar antara 9,67-10,85. Semakin tinggi
konsentrasi pemberian daging belut pada kerupuk opak kadar airnya semakin
tinggi. Tingginya kadar air dipengaruhi oleh kemampuan protein sebagai bahan
pengikat sehingga daging belut mampu meningkatkan cekaman terhadap air pada
bahan, sehingga pada waktu pengeringan yang sama dengan komposisi daging belut
yang berbeda akan diperoleh kadar air akhir yang berbeda pula (Hajar setyaji, et al 2010).
2.
Kadar protein
(%)
Dari
tabel 2 dapat dilihat bahwa kadar protein kerupuk opak belut cenderung semakin
meningkat dari perlakuan (0%) sampai perlakuan (8%). Meningkatnya kadar protein
kerupuk opak belut karena adanya peningkatan penambahaan jumlah daging belut.
Kadar protein kerupuk opak belut yabg dihasilkan pada penelitian ini berkisar
antara 5,12% sampai dengan 8,45%.
3.
Uji pengembangan
kerupuk opak
Analisa
ragam menunjukkan bahwa semakin besar volume penambahan daging belut
berpengaruh nyata terhadap pengembangan kerupuk opak belut yang dihasilkan.
Rata-rata volume pengembangan mutu kerupuk opak belut dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 3.
Rata-rata volume pengembangan kerupuk opak dengan berbagai persentase
penambahan daging belut.
|
Penambahan
daging
belut (%)
|
Skor
pengembangan
kerupuk
opak (%)
|
|
0%
|
7,82
|
|
2%
|
6,08
|
|
4%
|
5,76
|
|
6%
|
5,26
|
|
8%
|
4,47
|
Berdasarkan
pada tabel 3 Skor volume pengembanga kerupuk opak belut berada pada kisaran
4,47% sampai 7,82%. Hasil penelitian
menunjukkan pengaruh penambahan daging belut tidak berpengaruh nyata pada
volume pengembangan mutu kerupuk opak belut. Proses daya pengembang suatu
produk dipengaruhi oleh adanya pati tergelatinasi. Semakin banyak pati maka
volume pengembangan lebih besar karena proses gelatinasi granula-granula pati
akan memberikan volume pengembangan lebih besar daripada yang mengandung pati.
4. Uji organoleptik
Tabel 4. Nilai
Rata-rata Hasil Uji Organoleptik
|
Penambahan daging
belut
|
Warna
(%)
|
Rasa
(%)
|
Aroma
(%)
|
Kerenyahann
(%)
|
|
0%
|
3,25
|
1,35
|
3,95
|
3,05
|
|
2%
|
3,25
|
1,30
|
3,85
|
2,90
|
|
4%
|
3,10
|
1,85
|
3,85
|
2,85
|
|
6%
|
3,00
|
2,15
|
3,65
|
2,85
|
|
8%
|
2,95
|
2,35
|
3,70
|
2,80
|
a.
Warna
Pada tabel 4
menunjukkan bahwa nilai rata-rata skor warna berkisar antara 2,95% sampai
dengan 3,25% yaitu putih kekuningan. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh
penambahan daging belut tidak berpengaruh nyata terhadap skor warna.
b.
Rasa
Analisis
ragam menunjukkan bahwa penambahan daging belut berpengaruh terhadap nilai rasa
kerupuk opak yang dihasilkan. nilai rata-rata skor rasa berkisar antara 1,30%
sampai dengan 2,35%. Semakin banyak daging belut yang ditambahkan dalam setiap
perlakuan rasa kerupuk opak belut semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena
pada belut terdapat senyawa-senyawa pemberi aroma dan rasa yang secara kimiawi
memberikan rasa enak pada belut.
c.
Aroma
Pada
tabel 4 menunjukkan bahwa nilai rata-rata berkisar antara 3,63% sampai dengan
3,95% yaitu tidak berbau belut, yang berarti panelis memberi respon aroma
sedikit berbau belut sampai dengan tidak berbau belut terhadap kerupuk opak
belut. Dalam hal ini semakin banyak penambahan daging belut terhadap pembuatan
kerupuk opak, maka aroma kerupuk opak belut cenderung semakin sedikit berbau
belut.
d.
Kerenyahan
Pada tabel 4
mennjukkan bahwa rata-rata kerenyahan berkisar antara 2,80% sampai dengan 3,05%
yaitu renyah. Semakin banyak penambahan daging belut maka semakin rendah
kerenyahan terhadap kerupuk opak.
KESIMPULAN
Hasil
penelitian mengenai pengaruh penambahan daging belut penambahan daging belut
terhadap sifat kimia, fisik dan uji organoleptik kerupuk opak belut diperoleh
kesimpulan sebagai berikut :
1.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penambahan daging belut pada pembuatan kerupuk
opak berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar protein, dan rasa kerupuk
opak. Tetapi tidak berpengaruh nyata pada volume pengembangan kerupuk opak,
aroma, warna, kerenyahan dan uji hedonik (kesukaan).
2.
Penambahan
daging belut sebanyak 4% memberikan hasil terbaik yaitu kadar protein 7,27%,
kadar air 10,23%, volume pengembangan kerupuk 5,76% dan uji organoleptik warna
3,10, rasa 1,85, aroma 3,85, kerenyahan 2,85.
DAFTAR PUSTAKA
AfriantiI,
L. 2008. Teknologi Pengawetan Pangan.
Alfabeta. Bamdung. AOAC, 1984. Official
Method of Analysis of the Assoeciation of Official Analytical Chemist.
Edited by W.Harwutz. Benyamin Frankin Station. Washington.
Badan
Pusat Statistik (BPS). 2011. http//www.bps.go.id/, diakses tanggal 24 April
2013.
Ghufran,
M. Dan K. Kordi. 2010. Akuakultur di
perkotaan. Nuansa Aulia, Bandung.
Hajar
Setyaji, Viny Suwita A. Rahimsyah. 2010. Sifat
Kimia dan Fisika Kerupuk Opak dengan Penambahan Daging Ikan Gabus. Jurnal
Program studi Teknologi Hasil Pertanian. Fakultas Pertanian. Jambi.
14(1):14-22.
Haryadi.
1989. Beberapa bukti struktur granula
pati, Agritech, 9 (4): 11-16.
Rukmana
R.H. 1997. Ubi Kayu Budidaya dan Pasca Panen. Kanisius. Yogyakarta.
Ruri
Amalani C. 2011. Pengaruh Formulasi Ampas Tahu dan Tapioka Terhadap Mutu
Kerupuk Ampas Tahu. Skripsi Program Studi Teknologi Hasil Pertanian. Fakultas
Pertanian. Universitas Jambi.
Sudarmadji,
1997. Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty, Yogyakarta.
Suprapti
M. Lies. 2002. Tepung Sukun, Pembuatan dan pemanfaatan. Kanisius. Yogyakarta.
Winarmo
FG. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. PT Gramedia. Jakarta.
Yulianingsih,
L. 2005, Pengaruh Penambahan Keragenan Terhadap Karakteristik Fish
Nugget dari Ikan Mas. Program studi Teknologi Hasil Perikanan. Fakultas
perikanan dan Ilmu Kelautan.
Yusmeiarti.
2003. Pengaruh penambahan Natrium Metabisulfit Terhadap Mutu Kerupuk Ubi. Balai Penelitian dan
Pengembangan Industri. Padang.
jurnal ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah bahasa Indonesia.
Sumber : Dalam pembuatan jurnal ini bersumber dari skripsi milik Santi Widiya Hastuti mahasiswa teknologi hasil pertanian, fakultas teknologi pertanian, universitas Jambi.
Komentar
Posting Komentar